Sabtu, 08 Juni 2013

Ibu

hari ini, rindu ini terasa begitu memuncak berbeda dari yang sebelumnya pernah aku rasakan. aku merindumu ibu. aku tahu engkau belum merelakan sepenuhnya, tapi biarkanlah aku mulai berdiri di atas kakiku sendiri. sudah cukup lama kau menjadi penaungku, dan sudah saatnya aku mulai melihat dunia dengan langkahku sendiri. percayalah, aku bisa menggapai duniaku dengan caraku. saatnya kau mulai melihatku saja. sudah banyak hal yang kau tunjukkan padaku dan itu merupakan bekal yang cukup bagiku.

hari ini aku ingin menuangkan cerita ini untukmu. tiada seorangkan yang bisa menggantikanmu. tubuhmu yang mulai rentan, dahulu adalah pelindungku. masih panjang perjalananku (dengan seijin Tuhan) namun belum bisa aku membalasmu. bagaimana engkau medidikku menjadi seorang yang mandiri, kuat dan pribadi yang seperti sekarang. sampai-sampai untuk membayangkannyapun aku tak mampu. 

sungguh engkau pribadi yang menyenangkan, tidak pernah engkau memaksakan aku menjadi apa yang kau inginkan. kau berikan "kebebasan" itu, untukku melangkah dan menjadi apa yang aku mau. kau orang pertama yang menghapus air mata ini ketika jatuh ke pipi. kau yang menguatkan diri ini ketika sempat aku terjatuh. meski aku tahu kaupun terluka di dalam hati, tapi tidak kau tunjukkan itu. walau sering terlontar kata yang menyakitkan hati dari mulut ini, tapi tidak juga kau membenciku. bahkan kau merangkulku, memberikanku kasih sayang yang lebih. selalu memberikan doa terbaikmu untuk anak-anakmu.

aku tahu, tidaklah mulut ini lebih sering berucap manis daripada caci, seakan sulit bagiku untuk mengucapkan "aku sayang padamu", tapi percayalah sungguh aku menyangimu dengan segenap hidupku. mungkin baru lewat tulisan ini aku berucap, namun juga bukan semata tulisan tak berarti. bahkan di dalam diamku, wajahmulah yang terlintas pertama kali. dan tak sulit bagiku untuk menitikkan air mata ketika itu terjadi. teramat menyiksa mengingatmu kemudian menginginkamu namun engkau tak ada didekatku, bu...

sungguh aku telah mejadi manusia yang paling bahagia memiliki ibu seperti engkau. betapa Tuhan Maha Perencana, menuliskanku untuk menjadi anakmu, bagian dalam hidupmu. terimakasih ibu, dengan doamu aku melangkah, dengan kasih sayangmu aku bisa bernafas menjalani hidup ini... ampunilah aku ibu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar