Minggu, 14 Desember 2014

Hidup Bahagia

Hidup ini sudah penuh dengan hal-hal mengerikan, yang terkadang kita tidak ingin mengalaminya. Lalu, apa yang akan kita lakukan jika itu semua tidak terelakkan datang begitu saja menghampiri?

Mungkin sudah berulang kali hal ini terjadi, sampai aku bertanya apa sesungguhnya maksud dari semua ini? Aku pernah tersesat jauh sekali terdorong entah kemana, sampai untuk bangkit pun aku merasa susah. Sampai suatu ketika aku berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Tubuh ini tidak ingin aku hancurkan begitu saja karena kebodohan sesaat. Lama untuk bisa berdamai dengan keadaan menyeramkan ini, tapi ini semua setimpal dengan apa yang sekarang aku dapatkan. Bukan materi berlimpah, bukan juga setiap kesenangan duniawi. Bagaimana aku harus menyebutnya? Sesuatu ini merupakan hal yang aku bangga karena memilikinya.

Ada yang mencibir dengan pilihanku, ada yang merasa iba, dan mungkin mereka mencoba untuk menerima meski aku tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terlintas di benak mereka.

Apa sebenarnya arti hidup ini?
Tujuan apa yang ingin kita capai?
Aku, kau, dan mereka, kita semua memiliki keinginan yang berbeda. Lalu kenapa kita harus gelisah kala apa yang mereka miliki tidak kita miliki? Bukankah memang rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau? Pikiran seperti itu yang selalu terlintas di setiap kita, jadi jangan cemas kawan. Sesuatu yang tidak kau sukai bisa jadi akan sangat menarik untukku dan begitupun sebaliknya.

Hidup bukankah lebih menarik dengan adanya perbedaan? Tidak tahu akan seperti apa jika semua hal di dunia ini sama, mungkin tidak menarik. Sama halnya perbedaan kecil yang ada diantara kita, untuk apa kita berusaha keras untuk membuatnya menjadi sama kalau akhirnya banyak hal yang dikorbankan dengan sia-sia.

Mata ini sibuk memandang sesuatu yang lebih indah,
Tangan ini sibuk mencari yang lebih baik,
Kaki ini sibuk melangkah hingga entah kemana tujuannya,
Satu hal yang membuat kita lupa, terkadang kita lupa untuk melihat diri sendiri. 

Aku sibuk mencari, sibuk melihat, sibuk mendengar, entah sibuk apalagi hingga lupa. 

Jika kebahagiaan adalah tujuan akhir hidup, lalu bahagia seperti apa yang kau maksud? haruskah jauh berkelana jika bahagia itu bisa kita dapat dari diri sendiri? Tidak perlu selalu merasa kurang setelah melihat yang lain, tidak juga berkecil hati karena gagal akan sesuatu. 

Raga ini harusnya lebih dihargai, karena dengan menghargai bahagi itu akan datang dengan sendirinya. Bahagia itu sederhana, sesederhana ketika aku menulis semua ini. Begitupun seharusnya kita semua menjalani hidup ini.

Rabu, 26 November 2014

Bagian lain di hidup

Kita dibesarkan tidak dengan menggunakan metode apa-apa. Terlahir di keluarga dengan pemikiran kolot mungkin adalah alasan terbentuknya pribadi kita sekarang. Jarak yang cukup jauh diantara kita, perbedaan gender, perbedaan cara pandang, dan banyak lagi lainnya hal-hal yang sampai sekarang masih kita pertaruhkan bersama-sama. Masih jelas teringat bagaimana dulu kita beradu argumen, dengan watak keras saling mempertahankan keinginan menyalut apa yang menurut masing-masing kita adalah benar. Sekedar mengingat masa lalu untuk sebuah kenangan di masa sekarang.

Jauh setelah semua itu berlalu, terkadang kita masih saling terdiam tak berbincang. Sapa sekedar untuk tau dan terkadang hanya itu yang kita lakukan. Mungkin kita belum menemukan satu hal yang bisa menyatukan kita menjadi satu dalam keharmonisan, tapi jauh di lubuk hati terdalam dan seharusnya kita menyadari bahwa kita saling memiliki, saling ketergantungan, dan saling menyayangi. Menyayangi dengan cara kita sendiri tanpa harus orang lain tau.

Sesuatu telah terjadi hari ini, meski hanya sepersekian detik waktu yang kita butuhkan untuk melebur bersama dalam tawa. Aku berdoa kepada Tuhan semoga selalu kebaikan yang menyertai kehidupanmu, betapa rasa terimakasih ini ingin kuutarakan tapi bibir ini keluh tiap aku coba utarakan. Tanpa aku sadari dan terkadang harus dibantu oleh orang lain untukku menyadari betapa besar kasih sayang yang kau berikan telah banyak kebaikan hatimu yang kau berikan. Ego ini terkadang menutupinya sehingga sulit bagiku untuk melihat. Maaf...

Aku berusaha semampu yang aku bisa, semoga kelak bukan kecewa yang kau rasakan. Waktu terus berjalan, kehidupan kitapun terus membentuk cerita. Semoga banyak cerita di masa mendatang adalah cerita bahagia untuk kita bersama. Sebuah cerita yang selayaknya menggambarkan kisah kasih kebersamaan kita. Kebersamaan sebagai kakak dan adik.


Kamis, 06 November 2014

Kamu

Aku sedang tidak bersedih malam ini, tidak juga sedang direndung kelu, hanya ingin mengurai pikiran sesaat tentang semua ini.

Dulu semua terasa tanpa arti, lama untukku mengurainya, menemukan arti kamu yang sempat singgah walau hanya sesaat. Kehadiran yang dengan begitu saja aku lewatkan tanpa aku sadari. Kini semua mulai terasa, aku berfikir tentang bagaimana dulu yang pernah ada namun dengan begitu saja terabaikan oleh ku. Sedikit sesal tentang apa yang sudah terjadi, sesaat aku berharap mesin waktu benar adanya. Namun aku tidak ingin terjebak di keinginan sesaat akan dirimu.

Kita masih disini, dibawah langit yang sama sedang bercerita dengan malam tentang hari-hari yang telah kita lalui. Semua memang terasa jauh sekarang, begitu jauh sampai mungkin susah bagiku untuk menggapaimu. Hanya lewat sepenggal lirik itu yang membawaku kembali ke cerita lampau tentang kisah pilu diantara kita. Apa kabarmu? Adakah tanyamu tentangku malam ini? Lucu bagiku ketika mengingat yang telah lalu...

Andai Tuhan mendengar pintaku, semua ini ingin aku utarakan padamu meski hanya dalam pertemuan singkat. Isi hati tentang hal yang seharusnya aku utarakan saat itu, tentang terlambatnya hati ini menemukan jalannya menujumu.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Dia yang kau anggap...

butuh berapa lama bagimu unuk mengetahui bahwa sesuatu itu memang benar-benar ada dan nyata untukmu?
apakah itu cinta atau kasih sayang bagimu untuk tau bahwa yang terjadi adalah benar sesuatu yang tulus keluar dari hati?
bahkan ketika itu adalah waktu yang kau harapkan sebagai jawaban, namun waktu pun enggan menjadi jawaban.

aku mengerti kekecewaanmu mungkin terlalu pahit untuk dikenang, terlalu kelam untuk kau jadikan teman, tapi tidakkah bisa kau berikan kesempatan untukku ada menjadi bagian sedikit dari cerita manis di hidupmu?
banyak waktu yang telah kita lalui bersama, banyak cerita telah kita bagi satu sama lain, tapi mungkin itu semua belum cukup kau rasa untuk aku ada di hidupmu. rasa sakit ini bahan tidak lagi  tepat menyakiti hati, melebihi itu seluruh badan runtuh mengetahui aku tak  pernah sedikitpun terlintas di fikiranmu.

awal pertemuan yang tidak akan pernah aku sesali karena telah terjadi, meski sekarang semua terasa asing bagiku atau memang sebenarnya inilah yang terjadi karena selama ini semua hanyalah rasa satu pihak dariku untukmu. ketika berita bahagia itu yang kau ceritakan, sungguh akupun merasakan kebahagiaan itu untukmu. bukan hal besar yang aku pinta, bahkan untuk sekedar berharap saja aku takut. dan tanpa aku memintapun kau tepat menyayatku dengan tindakanmu. semua rasa yang selama ini tumbuh, semua laku yang terjadi, tidakkah itu semua memiliki arti bagimu?

aku sedih, sampai ingin aku menangis. tapi mungkin kaupun takkan menoleh jika darah sekalipun yang deras mengalir dari mataku. walau semua yang ada kini belum terputus dan akupun tidak berharap untuk itu. bukanlah situasi buruk yang aku inginkan sekarang berjalan diantara kita. aku bukan sosok yang dengan tega bertanya untuk menyakiti meski entah kau akan merasakannya  atau tidak. biarlah fikiran ini mengalir sesuai kehendakNya. aku mencoba menepis dengan pemikiran yang positif tentangmu.

entah ini sudah berakhir atau belum, entah apakah kau merasakan sesuatu tengah terjadi diantara kita atau tidak, entah haruskah semua ini aku ungkapkan kepadamu atau tidak, entahlah...

satu hal, aku berterimakasih atas semua hal baik yang pernah terjadi diantara kita dan berbahagialah engkau dengan  kehidupanmu, temanku (setidaknya itu apa yang aku rasakan selama ini tentangmu, seorang teman!).


Rabu, 15 Oktober 2014

Sesuatu itu...

Apa yang harus aku lakukan, ketika apa yang aku mau tidak bisa terwujud karena suatu hal?
Haruskah aku merajuk?
Ada sesuatu yang terpendam jauh di dasar terdalam hati yang membuatku tidak berdaya. Tidak semua bisa mengerti apa yang aku maksud, buatku setiap orang mempunyai isu tentang hal itu, ada sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan yang terkadang bisa menjadi penghalang kita. Walau hanya sebuah hal kecil.

Seperti ketika seorang anak kecil sungguh menginginkan permen kesukaan, tapi sang ibu justru memberinya buah untuk dimakan. 

Haruskah aku melawan walau itu akan terasa menyakitkan?
Menyakitkan bukan saja untuk ku, tapi juga bagi yang lain?
Haruskah aku bertahan dengan keinginan?
Sebuah keinginan yang belum tentu menjadi yang terbaik untukku?

Mungkin terdengar konyol dengan banyaknya pertanyaan, bukankah lebih baik jika dijalani saja?
Bagaimana bisa kita tau hasil hanya dengan mempertanyakannya?
Bagaikan mengharapkan sebuah pengampunan tanpa pengakuan...

In bukan lagi sebuah tahap dimana segala upaya harus diupayakan, seperti setelah masak ketika kau harus mencicipinya, hahh bahkan ketika rasanya pun terlalu pahit masih ada gula sebagai penawarnya. Semua upaya sudah dikerahkan tapi masih ada yang mengganjal, suatu hal yang tidak bisa dijelaskan hanya bisa dirasakan. Aku terhenti karenanya...

Banyak hal yang belum terselesaikan di belakang karenanya, biarlah malam ini aku hanya ingin menuliskannya di mesin penyimpan tulisan ini. Satu lagi ruang tersedia, rasanya menyenangkan kisah ini keluar. Entah kalian bisa merasakan atau tidak, tapi terimakasih kuucapkan...

Selamat malam...

Minggu, 05 Oktober 2014

Gadis Kecil

Gadis kecil itu terjaga di waktu seharusnya Ia memejamkan mata. Rasa Lelahnya bahkan tak bisa ditaklukkan saat itu. Ia menangis, terisak dalam diam, sesak ketika tangis tak terpecah. Suara-suara yang menggema sungguh muak untuk didengar. Amarah itu tersimpan rapi jauh didasar tak terlihat. Perlahan, sedikit demi sedikit amarah itu mencuat ke permukaan. Membesarkan seorang gadis kecil menjadi seseorang yang menyeramkan, bahkan dalam senyumnya yang ada bukanlah bahagia.

Perstiwa yang menemani perjalanannya menjadi wanita dewasa yang penuh dengan hal-hal menjijikkan. Selama hidupnya adalah waktu yang diperlukan untuk berjuang melawan. Disadari atau tidak wanita dewasa ini bukanlah gadis kecil yang dulu lagi, sudah terenggut apa yang seharusnya dijalani. 

Hal yang menyulitkan baginya untuk dijalani adalah ketika Ia harus menghadapinya. Dendam yang tersimpan untuk waktu lama seolah telah menjadi guru yang mengajarkannya banyak hal. Dalam diam Ia bersiasat, lama untuk terbalaskan apa yang dulu Ia rasakan. Bukan rasa segan atau bahkan jijik, hal itu justru membuatnya penuh rasa ingin tau dan ingin mencoba.

Ia lebih memilih menjalani hal yang salah tanpa merasa terbebani meski sebenarnya Ia telah melukai diri sendiri. Bentuk balas dendam terhadap seseorang yang melakukan ini terhadapnya di waktu dulu. Perlahan dan itu terasa amat menyiksa, tapi lagi bahkan Ia sudah terhanyut di dalamnya sampai rasa sakit itu telah berubah menjadi tawa. Tawa yang menyedihkan.

Kisah ini belum berakhir dan masih berjalan, pihak lawan merasakan sakit dengan cara yang berbeda. Bukan perasaan senang yang Ia dapat, Ia bahkan tidak tau apa yang sekarang dirasa. Menjalani hidup seperti apa yang seharusnya itulah yang Ia lakukan, seorang gadis kecil yang telah menjadi wanita dewasa dengan segala persoalan dihidupnya.

Api itu mungkin akan terus berkobar, entah sampai kapan.....

Senin, 29 September 2014

Kusimpan ini untukmu

Aku terhanyut dalam melodi sendu, aku menemukan dirimu hanyut bersamaku di dalamnya, yang lain menatapku lirih, sebagian merasa sedih. Aku bahkan tidak meminta, namun kau datang menemaniku. Senyumku memberi jawaban atas rasa gembira yang tak terhingga. Lama aku menanti dan berharap, terimakasih ku ucapkan.

Tanganmu terulur untukku, tanpa tanya kau menerima, tanpa pamrih kau temani aku, dalam sendu kita bersama. Jalan panjang terbentang tak terasa berat, ketika itu adalah langkahmu yang berjalan bersamaku. Perhentian itu masih jauh di pelupuk mata, aku berdiri memandang parasmu yang tak pernah padam memberiku senyum. Aku merasa aman ketika genggaman jemarimu berpadu dengan jemariku. Bahagia ketika tau sisa ini akan dilalui bersama denganmu.

Andai ada ungkapan lain selain terimakasih, sendu ini telah berubah menjadi haru, rasa bahagia yang menyeruak memenuhi rongga udara di dalam tubuh. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan kata-kata ketika itu dirimu yang ada disaat terpuruknya hidup ini.

Takut

Pernahkah rasa takut menghampirimu?
Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu?
Kehilangan dia yang terkasih?
Terabaikan dalam hidup oleh yang lain?
Menjadi tidak berguna?
Atau apa, katakan padaku...

Aku berjalan menyusuri lorong panjang tak berujung, ketika cahaya mendadak datang menjadi petunjuk akan jalanku. Takutku akan gelap tak menjadi halangan untukku tetap melangkah. Tahukah kalian ketika rasa takut itu bisa dikalahkan apa yang terjadi?
Aku bahkan tidak yakin telah melakukannya, tapi lorong itu kini berada jauh dibelakangku.
Hidup ini berjalan mengitari cerita yang telah tertulis, aku, kamu, dia, dan yang lainnya, kita bagaikan di tengah-tengah pemutaran film. Menyaksikan alur cerita yang mengalir menghantarkan ke akhir cerita yang dinanti.

Rasa takutku adalah ketika kamu meninggalkanku. Entahlah hidupku mungkin berjalan terlalu biasa untuk memberiku rasa takut yang teramat besar. Jika kamu bertanya sekarang, aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Satu hal yang aku yakini, tidak selamanya kebersamaan itu akan terjadi, cepat atau lambat pasti akan berakhir. Artinya semua sudah harus aku persiapkan, terutama persiapan untuk "membunuh" rasa takut itu. Pada akhirnya rasa takut itu tidak akan menjadi udara yang kuhirup. Aku melawannya dan begitupun seharusnya yang kamu lakukan untuk apapun itu rasa takut yang mengganggu hidupmu.

Ketika rasa takut itu menjadi kecewa yang mungkin bisa membunuhku, aku lebih memilih pergi meninggalkannya. Kehidupan yang terlalu biasa ini, aku tidak ingin "membunuhnya" secepat itu apalagi dengan cara itu. 

Karena hidup terus berputar, dan mungkin rasa takut yang berbeda akan silih berganti datang di kehidupan ini. Aku berdiri disini memperjuangkan apa yang aku inginkan, dan aku menginginkan melawan rasa takut. Aku tidak memaksamu, jalani lah hidupmu jika memang "berteman" dengan rasa takut adalah yang kamu pilih. Toh hidup ini adalah selalu tentang pilihan bukan...

Selasa, 01 Juli 2014

Benarkah???

Sudah lama semenjak terakhir kali kita berbicara, ketika malam kemarin kau menghubungiku aku terkejut. Rasa senang menghampiri bercampur dengan sejuta tanya di benakku. Kau memulainya dengan kata kata manis nan membuai, sejenak aku melupakan tanyaku sampai kau mengutarakannya. Alasan yang membuatku heran, benarkah? Aku memutar otak untuk mendapatkan jawaban, tidak ingin aku merusak peristiwa langka seperti ini sehingga aku tidak mempertanyakan kepadamu.

Banyak hal yang hingga kini masih mengganjal, mengapa sekarang? mengapa alasan itu yang kau utarakan? dan masih banyak lagi lainnya. Jarak yang telah tercipta diantara kita masih membuatku sungkan untuk memulai. Ada pikiran jahat singgah mengatakan bahwa kau bahkan tak tulus dengan apa yang telah kau lakukan. Masihkah kau mau menerima ku dengan hangat? Atau.....

Aku berusaha membuang jauh semua prasangka buruk itu, meskipun sulit bagiku untuk melakukannya karena terlalu banyak kenangan indah di masa lalu. Pernah kita membangun asa bersama untuk masa depan, pernah kita saling melukai meski bukan itu maksudnya dan semua itu masih terangkum rapi dalam ingatan. Apakah kau mengingatnya sama seperti halnya aku?

Sekarang mungkin memang tak semanis dahulu, banyak hal telah berubah dan memang harus berubah. Kau mungkinlah bukan lagi seseorang yang pernah kukenal, kita telah memilih jalan masing masing untuk melanjutkan hidup. Alasan apapun itu, semoga kita tetap bisa menjalin hubungan ini meski sekarang kita telah dengan tujuan kita masing masing.

Rabu, 18 Juni 2014

"unfinished business"

Bukan suatu hal yang pernah terbayangkan sebelumnya untuk terjadi di kehidupan. Saya harus berada di suatu waktu dimana saya harus bisa sendiri melewatinya. Berat saya rasa, kejadian besar pertama kalinya terjadi dan mau tidak mau saya harus mau. 

Saya menangis ketika itu, terlalu berat yang dirasa untuk saya sendiri berjuang melewatinya. Jarak yang jauh nyata terbentang ketika mereka tidak di sini untuk membantu. Semakin berat ketika apa yang telah dilakukan malah mendapat caci meski itu adalah usaha terbaik yang saya lakukan.

Mental belum terbentuk sempurna, saya jatuh ketika berusaha bertahan. Tameng yang ada tidak setegar itu untuk bertahan. Saya sendiri dengan masalah besar pertama kalinya menghampiri kehidupan saya. Tanpa arahan saya sendiri memberanikan diri untuk melewatinya. 

Bukan lagi sekedar beban fisik, hantaman itu menghujam pertahan batin. Seseorang membantu saya mencerna semua ini, yang akhirnya membuat saya tersadarkan. Tuhan dengan caraNya membentuk pribadi ini menjadi sadar, mungkin Tuhan ingin diri ini belajar lebih banyak tentang kehidupan. Mempersiapkan mental agar lebih kuat, mengajari diri tentang tugas seorang manusia, bagaimana harusnya bentuk tanggung jawab itu dilakukan.

Panjang memang jalan yang ditempuh, sungguh hati ini sempat lelah dan berfikir untuk menyerah. Jalannya memang mungkin harus berakhir di bagian ini, tapi kejadian besar ini kemudian menyadarkan bahwa masih ada urusan yang belum terselesaikan dan menunggu untuk di selesaikan sebelum menuju urusan yang lainnya.

Rabu, 14 Mei 2014

Harus Memilih

Ketika dia yang menerima telinga ini sebagai tempat untuknya bercerita, banyak kisah terlontar dari mulutnya. Kisah yang membuat diri ini tertegun sendiri, berkata dalam hati sungguh bersyukur aku atas kehidupanku. Betapa Tuhan menorehkan cerita hidup yang indah tapi sayang terkadang diri ini lalai untuk bersyukur.

Dia yang berkeluh kesah atas jalan ceritanya, kisah hidup yang berjalan penuh dengan liku. Laku yang diperbuat seolah selalu menjadi salah untuk hasil yang salah pula. Semua runtuh dalam satu waktu seperti pertanda bahkan alampun tak merestui, seakan akhir hidup semakin dekat untuk menjemput.

Aku bukanlah dia, tidak juga aku diposisi untuk tau lebih seberat apa liku yang menghampiri hidupnya. Tapi ada hal lain yang menarik perhatian, bagaimana aku lebih mengerti akan kehidupan ini. Dari banyak hal yang terjadi mulai dari penantian sampai kegagalan, bahwa tidak bisa semua yang diinginkan akan tergapai dalam satu waktu, selalu harus dipilih jalan mana yang akan dilalui. Aku mungkin gagal di jalan satu meski belum tau bahwa kesuksesan ada di jalan dua. Mata ini tak menyempatkan untuk melihat walau hanya untuk sekejap. 

Aku terlanjur menetapkan asa bahwa hidupku hanyalah berada di jalur satu, dan ketika itu gagal maka seluruh hidupkupun gagal. Ceritanya lalu mengubah asa yang telah tertanam, aku melihat dia sebagai sosok yang gembira atas kehidupan yang dimilikinya tanpa aku tau dibalik kegembiraan itu dia menangis akan satu hal. Aku bersyukur bahwa hal yang membuatnya menangis justru tak mengganggu ku sama sekali.

Bahwa Tuhan mengarahkan ku pada beberapa pilihan untuk menjalani hidup, dan aku harus memilih tidak bisa beberapa pilihan itu aku ambil dalam satu waktu. Tuhan tidak menjadikan ku individu yang tamak, pasti ada waktu untuk semua pilihan itu singgah di hidupku. Tinggal bagaimana aku memandangnya dan menjalaninya... Terima kasih Tuhan atas hidup yang begitu kau berkahi, dan maaf atas segala prasangka buruk ku bagimu.

Minggu, 06 April 2014

Mana yang kau pilih,
Hidup dalam kesunyian?
Atau hidup dalam kebisingan?
Jika kesunyian itu justru bisa menimbulkan benih pertengkaran atau bahkan sampai menimbulkan kebencian.

Mereka bilang rela menukar kehidupannya yang bising,
Kebisingan justru membuat mereka geram.
Sudah tidak ada ruang bagi mereka bahkan untuk bernafas.
Kesunyian bisa membuatmu bernafas, bernafas dalam kesunyian mendatangkan ketenangan bagimu.
Tapi bisakah itu disebut tenang, di saat bersamaan kau menyimpan diam untuk membenci?
Kesunyian bahkan telah merenggut asa dalam hidup, masih inginkah akan kesunyian itu?
Entah mencari kebisingan dimana jika sekeliling hanya membisu tanpa sepatah kata terucap.
Sedangkan mereka yang kebisingan adalah teman dalam hidup, terkadang merasa penat menginginkan sunyi sesaat untuk berfikir.

Dalam sunyi diri membenci, dalam bising diri berbisik
Bising itu membuatmu bisa melihat kehidupan dengan jelas,
Sunyi itu membunuhmu perlahan dalam benci.


Senin, 24 Maret 2014

Apa yang mereka tau?

Sudut itu terasa menyeramkan bagiku, mereka menempatkanku seolah-olah diri ini pelaku kejahatan terjahat untuk dihukum.
Mereka selalu menilai apa yang mereka liat, bahkan untuk sekedar mencari fakta kebenaran saja mungkin mata mereka telah tertutup.
Aku bukanlah malaikat tanpa dosa, namun aku juga bukan seorang yang kuat akan segalanya.
Mereka bahkan tak menerima sepatah kata pembelaan dariku, semua terasa salah bagi mereka.
Ingin rasanya aku menukar milikku dengan milik mereka, menempatkan mereka menjadi diri ini dan lihat apa mereka masih bisa menyalahkan?

Mereka hanya bisa saja datang dan mencerca tentangku. Kuping ini sudah kebal mendengarnya, terkadang hanya tawa lah yang terbalas akan cacian itu.
Tawa akan mereka yang bertingkah seolah paling tau, 
Maaf bukan diri ini tidak menghargai apa yang kalian berikan, tapi mungkin kalian harus menjadi diriku sebelum kalian menghakimi bahkan mencerca tentang hidupku.

Kebencian bisa saja tumbuh, tapi untuk membenci pun aku mungkin tidak mempunyai hak. Hormatku kepada mereka membuatku mengurungnya. Tuhan sungguh tanpa berkata pun Engkau maha tau...

Sabtu, 01 Maret 2014

Maaf

Ketika mereka Tetap memberi semangat bahkan di keadaan yang tertuga sekalipun, tubuh ini bergidik saat tau begitu banyak cinta yang mereka berikan. Maafkan...  

Aku kira aku kuat, namun aku tumbang justru di saat-saat seharusnya aku bertahan untuk bangkit. Tubuh ini mungkin terlalu rapuh sampai tidak bisa lagi untuk menopang. Angin yang berhembus pun serasa memberi pertanda untuk jatuh.   

Air mata sudah mengering, padahal itu kawan tersisa bagiku. Langkah terasa semakin berat, semua terasa semakin jauh, impian yang mungkin telah pupus. Semua menjadi satu bergejolak menunggu waktu untuk meledak.  

Atau mungkin sudah saatnya... 

Senin, 24 Februari 2014

Isi Hati

Bukan bermaksud untuk menjadi pembangkang, saya dengan cara ini bermaksud untuk mengerti dan memahami semua ini. Kemana selanjutnya saya berlabuh, dikeadaan seperti apa nantinya saya bisa bertahan. Saya percaya setiap laku dalam hidup ini telah diatur karena saya memiliki pencipta akan diri ini, bahkan untuk saat ini saya menulis semua terjadi karenaNya.

Saya tidak bosan dan juga tidak sedang mencari pengalihan akan hidup ini, namun terkadang saya bertanya "sampai kapan? " atau "belum percayakah Engkau kepadaku?"

Setiap udara yang saya hirup dan nafas yang dihembuskan, saya bersyukur atas itu. Tapi sungguh masihkah ada kesempatan itu? Banyak yang berkata sabar itu ada batasnya, manusia bukanlah sesosok yang sempurna tanpa memiliki hasrat. Masih saya cerna semua itu, 

Ketika apa yang menjadi keinginan tak kunjung terwujudkan kepada Dialah saya bergantung, memohon dengan segala daya upaya. Tapi terkadang cara tersebut pun belum berhasil, atau mungkin diri ini terlalu sombong dengan sedikit hal yang telah dilakukan untuk mewujudkan keinginan. Hidup ini terkadang bagi saya membingungkan, ya membingungkan ketika saya berfikir sendiri tanpa melibatkan Dia. Karena terkadang diri ini lupa saya hanya perlu menjalaninya dengan baik.

Entahlah semua masih abu-abu bagi saya, mungkin semua terasa lambat tapi justru di waktu panjang yang ada itu saya menemukan banyak hal lain untuk saya syukuri. Selalu ada dua sisi di kehidupan ini, positif dan negatif dan saya memilih positif. Diri ini diciptakan bukan untuk dirusak dengan mengabaikannya, dan saya tidak berencana untuk melakukannya dengan memenuhi diri akan hal-hal negatif.

Hukum sebab akibat, dan semua yang terjadi di kehidupan ini adalah formulatif. Apa yang terjadi sekarang adalah seperti apa kita di masa lalu. Tentunya dengan Dia sebagai pencipta.

Selasa, 07 Januari 2014

"Siapa yang perduli?"

Dalam suatu percakapan, seseorang pernah berkata kepada saya
"Sekarang ini percuma berbuat perduli sama orang lain, karena orang yang kita perduliin belum tentu akan melakukan hal yang sama ke kita"
Sesinis itukah orang-orang sekarang ini?
Bagaimana dengan fakta bahwa manusia itu makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri? 
Atau Anggaplah jika memang begitu adanya bahwa manusia sekarang ini semakin acuh satu sama lain. Lalu haruskah kita terbawa dengan mengikutinya?
Menjadi follower seperti yang banyak orang lakukan di dunia twitter?
Selalu ada sisi lain di kehidupan ini, pernahkah terbersit untuk tidak melakukan yang telah banyak orang lain lakukan?

Mungkin banyak dari kita yang beranggapan bahwa perduli terhadap orang lain hanyalah bentuk kepura-puraan semata. Semacam pencitraan yang dilakukan untuk menarik simpati orang lain. Terlepas dari niat setiap individu dalam melakukannya, menurut saya itu lebih daripada acuh sama sekali. Karena ketika bersikap perduli berarti masih ada di dalam diri individu itu makna sebagai makhluk yang bernyawa dan berakal. Bukan mereka yang acuh dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Maaf tapi itu pandangan saya.

Mereka yang perduli biasanya melakukan hal tersebut karena mereka memiliki keyakinan bahwa hidup ini akan lebih bermakna dengan adanya kebaikan yang dilakukan. Kebaikan melalui keperdulian terhadap orang lain. Hal kecil yang bisa membuat hidup lebih bahagia. Seperti memikirkan kebutuhan orang lain di tempat umum. Saya yakin masih ada di dunia yang semakin gila ini, individu-individu yang percaya bahwa hidup akan lebih bahagia dan bermakna ketika kita telah melakukan satu saja hal kecil untuk orang lain.

Atau pernahkan anda berandai-andai saja, memposisikan diri sebagai orang yang diabaikan padahal anda sedang membutuhkan tolerir dari orang lain. Pasti tidak akan menyenangkan saya rasa, karena saya pun tidak akan menyukainya. 

Bagaimana, masihkah kita akan bersikap acuh terhadap sesama?