Rabu, 14 Mei 2014

Harus Memilih

Ketika dia yang menerima telinga ini sebagai tempat untuknya bercerita, banyak kisah terlontar dari mulutnya. Kisah yang membuat diri ini tertegun sendiri, berkata dalam hati sungguh bersyukur aku atas kehidupanku. Betapa Tuhan menorehkan cerita hidup yang indah tapi sayang terkadang diri ini lalai untuk bersyukur.

Dia yang berkeluh kesah atas jalan ceritanya, kisah hidup yang berjalan penuh dengan liku. Laku yang diperbuat seolah selalu menjadi salah untuk hasil yang salah pula. Semua runtuh dalam satu waktu seperti pertanda bahkan alampun tak merestui, seakan akhir hidup semakin dekat untuk menjemput.

Aku bukanlah dia, tidak juga aku diposisi untuk tau lebih seberat apa liku yang menghampiri hidupnya. Tapi ada hal lain yang menarik perhatian, bagaimana aku lebih mengerti akan kehidupan ini. Dari banyak hal yang terjadi mulai dari penantian sampai kegagalan, bahwa tidak bisa semua yang diinginkan akan tergapai dalam satu waktu, selalu harus dipilih jalan mana yang akan dilalui. Aku mungkin gagal di jalan satu meski belum tau bahwa kesuksesan ada di jalan dua. Mata ini tak menyempatkan untuk melihat walau hanya untuk sekejap. 

Aku terlanjur menetapkan asa bahwa hidupku hanyalah berada di jalur satu, dan ketika itu gagal maka seluruh hidupkupun gagal. Ceritanya lalu mengubah asa yang telah tertanam, aku melihat dia sebagai sosok yang gembira atas kehidupan yang dimilikinya tanpa aku tau dibalik kegembiraan itu dia menangis akan satu hal. Aku bersyukur bahwa hal yang membuatnya menangis justru tak mengganggu ku sama sekali.

Bahwa Tuhan mengarahkan ku pada beberapa pilihan untuk menjalani hidup, dan aku harus memilih tidak bisa beberapa pilihan itu aku ambil dalam satu waktu. Tuhan tidak menjadikan ku individu yang tamak, pasti ada waktu untuk semua pilihan itu singgah di hidupku. Tinggal bagaimana aku memandangnya dan menjalaninya... Terima kasih Tuhan atas hidup yang begitu kau berkahi, dan maaf atas segala prasangka buruk ku bagimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar