Minggu, 05 Oktober 2014

Gadis Kecil

Gadis kecil itu terjaga di waktu seharusnya Ia memejamkan mata. Rasa Lelahnya bahkan tak bisa ditaklukkan saat itu. Ia menangis, terisak dalam diam, sesak ketika tangis tak terpecah. Suara-suara yang menggema sungguh muak untuk didengar. Amarah itu tersimpan rapi jauh didasar tak terlihat. Perlahan, sedikit demi sedikit amarah itu mencuat ke permukaan. Membesarkan seorang gadis kecil menjadi seseorang yang menyeramkan, bahkan dalam senyumnya yang ada bukanlah bahagia.

Perstiwa yang menemani perjalanannya menjadi wanita dewasa yang penuh dengan hal-hal menjijikkan. Selama hidupnya adalah waktu yang diperlukan untuk berjuang melawan. Disadari atau tidak wanita dewasa ini bukanlah gadis kecil yang dulu lagi, sudah terenggut apa yang seharusnya dijalani. 

Hal yang menyulitkan baginya untuk dijalani adalah ketika Ia harus menghadapinya. Dendam yang tersimpan untuk waktu lama seolah telah menjadi guru yang mengajarkannya banyak hal. Dalam diam Ia bersiasat, lama untuk terbalaskan apa yang dulu Ia rasakan. Bukan rasa segan atau bahkan jijik, hal itu justru membuatnya penuh rasa ingin tau dan ingin mencoba.

Ia lebih memilih menjalani hal yang salah tanpa merasa terbebani meski sebenarnya Ia telah melukai diri sendiri. Bentuk balas dendam terhadap seseorang yang melakukan ini terhadapnya di waktu dulu. Perlahan dan itu terasa amat menyiksa, tapi lagi bahkan Ia sudah terhanyut di dalamnya sampai rasa sakit itu telah berubah menjadi tawa. Tawa yang menyedihkan.

Kisah ini belum berakhir dan masih berjalan, pihak lawan merasakan sakit dengan cara yang berbeda. Bukan perasaan senang yang Ia dapat, Ia bahkan tidak tau apa yang sekarang dirasa. Menjalani hidup seperti apa yang seharusnya itulah yang Ia lakukan, seorang gadis kecil yang telah menjadi wanita dewasa dengan segala persoalan dihidupnya.

Api itu mungkin akan terus berkobar, entah sampai kapan.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar