Rabu, 26 November 2014

Bagian lain di hidup

Kita dibesarkan tidak dengan menggunakan metode apa-apa. Terlahir di keluarga dengan pemikiran kolot mungkin adalah alasan terbentuknya pribadi kita sekarang. Jarak yang cukup jauh diantara kita, perbedaan gender, perbedaan cara pandang, dan banyak lagi lainnya hal-hal yang sampai sekarang masih kita pertaruhkan bersama-sama. Masih jelas teringat bagaimana dulu kita beradu argumen, dengan watak keras saling mempertahankan keinginan menyalut apa yang menurut masing-masing kita adalah benar. Sekedar mengingat masa lalu untuk sebuah kenangan di masa sekarang.

Jauh setelah semua itu berlalu, terkadang kita masih saling terdiam tak berbincang. Sapa sekedar untuk tau dan terkadang hanya itu yang kita lakukan. Mungkin kita belum menemukan satu hal yang bisa menyatukan kita menjadi satu dalam keharmonisan, tapi jauh di lubuk hati terdalam dan seharusnya kita menyadari bahwa kita saling memiliki, saling ketergantungan, dan saling menyayangi. Menyayangi dengan cara kita sendiri tanpa harus orang lain tau.

Sesuatu telah terjadi hari ini, meski hanya sepersekian detik waktu yang kita butuhkan untuk melebur bersama dalam tawa. Aku berdoa kepada Tuhan semoga selalu kebaikan yang menyertai kehidupanmu, betapa rasa terimakasih ini ingin kuutarakan tapi bibir ini keluh tiap aku coba utarakan. Tanpa aku sadari dan terkadang harus dibantu oleh orang lain untukku menyadari betapa besar kasih sayang yang kau berikan telah banyak kebaikan hatimu yang kau berikan. Ego ini terkadang menutupinya sehingga sulit bagiku untuk melihat. Maaf...

Aku berusaha semampu yang aku bisa, semoga kelak bukan kecewa yang kau rasakan. Waktu terus berjalan, kehidupan kitapun terus membentuk cerita. Semoga banyak cerita di masa mendatang adalah cerita bahagia untuk kita bersama. Sebuah cerita yang selayaknya menggambarkan kisah kasih kebersamaan kita. Kebersamaan sebagai kakak dan adik.


Kamis, 06 November 2014

Kamu

Aku sedang tidak bersedih malam ini, tidak juga sedang direndung kelu, hanya ingin mengurai pikiran sesaat tentang semua ini.

Dulu semua terasa tanpa arti, lama untukku mengurainya, menemukan arti kamu yang sempat singgah walau hanya sesaat. Kehadiran yang dengan begitu saja aku lewatkan tanpa aku sadari. Kini semua mulai terasa, aku berfikir tentang bagaimana dulu yang pernah ada namun dengan begitu saja terabaikan oleh ku. Sedikit sesal tentang apa yang sudah terjadi, sesaat aku berharap mesin waktu benar adanya. Namun aku tidak ingin terjebak di keinginan sesaat akan dirimu.

Kita masih disini, dibawah langit yang sama sedang bercerita dengan malam tentang hari-hari yang telah kita lalui. Semua memang terasa jauh sekarang, begitu jauh sampai mungkin susah bagiku untuk menggapaimu. Hanya lewat sepenggal lirik itu yang membawaku kembali ke cerita lampau tentang kisah pilu diantara kita. Apa kabarmu? Adakah tanyamu tentangku malam ini? Lucu bagiku ketika mengingat yang telah lalu...

Andai Tuhan mendengar pintaku, semua ini ingin aku utarakan padamu meski hanya dalam pertemuan singkat. Isi hati tentang hal yang seharusnya aku utarakan saat itu, tentang terlambatnya hati ini menemukan jalannya menujumu.